Cari

Berdagang dan memenangkan pasarnya kembali

clip_image002[6]
clip_image004[6]
clip_image006[6]


Selamat Datang Kembali Generasi GusJiGang
(Kyai Muhaminin Iqbal)

Dunia muslim meskipun memiliki pasar yang sangat besar - sektor pangan dan gaya hidup saja mencapai US$ 1.8 trilyun tahun ini dan akan mencapai US$ 2.6 trilyun dalam lima tahun mendatang – masih sangat sedikit dari porsi pasar ini yang dikuasai oleh muslim itu sendiri. Penguasaan pasar oleh umat lain seperti yang terjadi di Idonesia adalah juga typical untuk negara-negara yang berpenduduk muslim mayoritas lainnya. Lantas apa yang bisa diperbuat umat ini untuk dapat memenangkan pasarnya kembali ? Barangkali inilah waktunya untuk melahirkan kembali generasi GusJiGang !

Ini adalah generasi yang dahulu pernah dilahirkan melalui dakwah para wali yang melakukan dakwahnya dengan meng-address secara langsung segala kebutuhan yang mendasar di masyarakat. Generasi GusJiGang adalah generasi yang berakhlak baGus – rajin beramal saleh, pandai mengaJi – tidak hanya membaca kitab, tetapi juga mentadaburi dan mengamalkannya secara sungguh-sungguh sampai tingkatan hikmah dan juga pandai berdaGang.

Generasi GusJiGang ini berjaya di Nusantara selama berabad-abad sampai setidaknya pertengahan abad 18. Bukti sejarah keberadaan mereka ini hingga kini masih bisa disaksikan di musium uang BI, berupa mata uang Dirham yang dicetak tahun 1744.

Di salah satu sisi mata uang itu bertuliskan huruf Arab yang berbunyi : “Derham Min Kompeni Welandawi” yang artinya Dirham dari perusahaan Belanda, dan sisi lainnya berbunyi : “Ila Djazirat Djawa Al- Kabir” yang artinya untuk Jawa Besar. Mengapa Belanda – yang tentu saja aslinya berbahasa Belanda, setelah mendapatkan persetujuan dari Keraton Mataram – yang berbahasa Jawa – untuk menerbitkan uangnya sendiri, malah menerbitkannya dengan tulisan Arab dan berbahasa Arab ? Itulah bukti sejarah yang self-explanatory yang bahkan hingga tahun 1744 yaitu sekitar 1.5 abad setelah Belanda masuk Indonesia-pun, penguasaan perdagangan di Nusantara masih dikuasai oleh orang-orang yang menggunakan bahasa Arab dan menggunakan tulisan Arab dalam keseharian perdagangannya. Siapa-siapa mereka ini kira-kira ? Itulah generasi GusJiGang – yang merupakan hasil dakwah para wali sejak berabad-abad sebelumnya.

Lantas sejak kapan kita kehilangan dominasi perdagangan ini ? sejak penjajah Belanda dengan cerdik-nya meng-kapling-kapling pekerjaan. Pekerjaan berdagang hanya untuk kaum minoritas dari timur – yang saat itu terdiri dari suku Arab, India dan Tionghoa.

Sementara penduduk pribumi mayoritas diarahkan untu bertani, dan inipun diarahkan untuk tanaman-tanaman yang menjadi kepentingan penjajajh semata – bukan untuk kepentingan rakyat itu sendiri. Kok mau kita waktu itu diarahkan demikian ? karena para pemimpin masyarakatnya saat itu telah dibujuk dahulu oleh penjajah dengan diberi jabatan-jabatan yang enak tanpa harus bekerja keras. Itulah yang disebut priyayi, yang kemudian menjadi obsesi rakyat kebanyakan selama berabad-abad. Karena priyayi itu kerjanya enak, gajinya gede dan dihormati pula di masyarakat.

Dampak dari obsesi menjadi priyayi itulah perdagangan ditinggalkan oleh sebagian besar penduduk pribumi negeri ini – yang terlena dengan citacitanya untuk menjadi priyayi secara turun temurun, dan akibatnya dunia perdagangan dikuasai oleh umat lain hingga kini.

Penguasaan dunia perdagangan yang direpresentasikan dalam bentuk generasi GusJiGang tersebut , juga bukan semata karangan para wali itu sendiri. Para wali itu adalah orang-orang yang sangat menguasai ajaran agama ini, tidak sebatas ilmu tetapi juga pada tingkatan hikmah yang dihasilkan melalui amal shaleh yang nyata di masyarakat.

Amal shaleh mereka inilah yang antara lain dikenal dalam bahasa jawa – wong kang udo klambenono, wang kang luwe pakanono, wong kan kudanan payungono – orang yang telanjang beri dia baju, orang yang lapar beri dia makanan dan orang yang kehujanan beri dia payung/peneduh.
Pelajaran ini semua sebenarnya sumbernya juga tidak jauh-jauh, semua berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul. Allah menyandingkan dengan sangat dekat antara ibadah yang khusus (seperti sholat dan mengaji) dengan ibadah yang umum seperti perdagangan yang berujung pada kemampuan untuk memberi makan atau nafkah.
Penyebab orang masuk Neraka saqar misalnya, dua diantaranya yang disandingkan adalah orang yang ketika di dunia tidak sholat , dan orang yang tidak memberi makan ( QS 74 : 43-44). Di surat lain Allah memerintahkan kita setelah sholat untuk segera bertebaran di muka bumi mencari karunianya (QS 62:10).
Bahkan yang sangat keras adalah peringatan dari Allah bahwa orang yang (hanya) sholat saja bisa celaka. Yaitu bila dia lalai dalam sholatnya, bila dia ria’ dan bila dia enggan memberikan bantuan bagi yang membutuhkannya. ( QS 107 : 4-7).
Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan ke kita akan pentingnya umat ini menguasai benar urusan mencari rezeki – yang merupakan bagian dari ibadah dalam arti luas, setelah penguasaannya atas ibadah-ibadah khusus yang terkait dengan sholat dan lain sebagainya. Inilah yang juga dicontohkan langsung oleh uswatun hasanah kita ketika membangun negeri Islam Madinah. Beliau membangun pasar bagi kaum muslimin tidak lama – sekitar 2 tahun - setelah membangun masjid Nabi. Artinya segera setelah kita membangun keimanan dan ketaatan dalam ibadah khusus, kita juga harus bersegera menguasai pasar – yang merupakan simbul dari segala pemenuhan kebutuhan manusia.

Maka masjid dan pasar adalah seperti dua sisi dari mata uang yang harus digenggam erat oleh umat ini. Bila kita hanya menggenggam masjid di tangan kita, urusan kebutuhan kita diambil alih oleh orang lain – dan kita bisa terperdaya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita itu. Bila kita hanya menggenggam pasar tetapi jauh dari masjid, hasilnya adalah kita yang tidak ada bedanya dengan umat lain dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Orang lain memakan atau memberi riba, kita juga melakukannya. Begitu pula dengan pelanggaran-pelanggaran syariat lainnya, orang lain melakukannya tanpa merasa bersalah – karena mereka memang tidak beriman - lha kita kan ingin masuk kelompok yang disebut sebagai orang yang beriman ? maka kita juga harus jauhi apa-apa yang dilarangNya dan melaksanakan apa-apa yang diperintahkanNya.

Pertanyaannya adalah lantas bagaimana kita menghadirkan kembali generasi yang berakhlak baGus, pandai mengaJi dan pandai berdaGang tersebut ? Persis seperti sirah Nabi tersebut di atas langkah-langkahnya.

Mulainya harus dari membangun masjid ! namun karena saat ini masjidmasjid sudah amat banyak – dimana saja ada masjid, yang kita perlu tekankan bangun saat ini bukan lagi fisiknya – tetapi adalah misi pemakmurannya. Misi pemakmuran masjidnya yang harus mampu melahirkan generasi GusJiGang tersebut di atas.

Di sisi pasarnya, saat inilah peluang terbaik untuk men-disrupt dominasidominasi ekonomi umat lain yang sudah berlangsung sejak akhir abad lalu itu. Solusi teknologi bisa menjadi jawaban untuk umat yang hidup di jaman ini. Jadi selain harus sanga dekat dengan masjid, ummmat yang hidup di jaman ini harus sangat menguasai ilmu dan teknologi serta ketrampilan-ketrampilan lain yang dibutuhkan di jaman ini. Inilah antara lain yang sedang kami rintis dalam wadah yang kita sebut Startup Center Indonesia – Depok. Dua produk startup kami yang oleh Ummah Wide dimasukkan dalam The 50 Most Innovative Global Muslim Startups 2016 adalah dua startups yang secara tandem mengemban misi untuk melahirkan generasi GusJiGang tersebut di atas.

Dua startups tersebut adalah yang pertama iGrow – di urutan ke 5 dari 50 startups muslim yang terpilih. Oleh Ummah Wide iGrow ini dicatat sebagai the most globally recognized startups on the list – karena iGrow memang sebelumnya juga sudah masuk dalam 100 startups yang akan merubah dunia versi Disrupt100.

Yang kedua adalah startup kami yang relaif tidak dikenal di dalam negeri karena user-nya meskipun telah mencapai lebih dari setengah juta orang – user tersebut menyebar di 180 negara di dunia, itulah Learn Qur’an yang aplikasinya bisa di-download di App Store maupun Google Play. Ini sejalan dengan misi kami untuk mengajak dunia untuk mengaji ! 
Perjalanan panjang untuk kembali menghadirkan generasi GusJiGang itu telah kita mulai – yaitu generasi yang sangat dekat dengan masjid dan pada saat yang bersamaan juga sangat menguasai pasar. Dan kita tidak lagi membicarakan pasar itu bersifat kedaerahan ataupun bahkan negara, yang kita bicarakan ini adalah pasar global seperti yang diungkap oleh Ummah Wide tersebut di atas. InsyaAllah kita bisa. (dari Gerai Dinar).




















No comments:

Post a Comment